Selasa, 28 Mei 2013

puisi darah dari belatimu

ada ceceran puisi yang kau tinggalkan di pekarangan rumah tua itu,
tapi masih adakah sisa air matamu pengganti gerimis di senja esok.
aku merindukan puisi itu, puisi air mata,
bait-bait yang telah ditumbangkan oleh pohon tak bernama di samping jendela yang telah lama diam. adakah kau akan menemaniku memunguti ceceran-ceceran puisi itu,
membersihkan sisa dedaunan dan menggantikannya dengan darah dari belatimu.