ada ceceran puisi yang kau tinggalkan di pekarangan rumah tua itu,
tapi masih adakah sisa air matamu pengganti gerimis di senja esok.
aku merindukan puisi itu, puisi air mata,
bait-bait yang telah ditumbangkan oleh pohon tak bernama di samping jendela yang telah lama diam.
adakah kau akan menemaniku memunguti ceceran-ceceran puisi itu,
membersihkan sisa dedaunan dan menggantikannya dengan darah dari belatimu.